Detail Cantuman Kembali

XML

THE LOST SYMBOL


Dan Brown adalah seorang pengarang yang sangat kontroversial. Ketiga buku novel karangannya, yaitu ‘Da Vinci Code’, ‘ Angels and Demons’, dan yang paling anyar, ‘The Lost Symbol’, telah menjadi best seller dan menjadi buah bibir dimana-mana.
Brown menulis trilogi tersebut, berdasarkan riset yang sangat serius, dan semua organisasi, ritual, maupun setting historis di novel tersebut adalah berdasarkan fakta di lapangan. Terlepas dari penafsiran Brown yang kontroversial mengenai ‘Holly Grail’, ‘The Ancient Mystery’, ‘Apotheosis’, ‘Noetic Science’ atau istilah-istilah lainnya, trilogi tersebut telah mengajarkan kita satu hal yang penting.
Ternyata, kebudayaan barat yang terkenal sangat rasional juga menyimpan kearifan yang bersifat spiritual.

Trilogi tersebut mengungkapkan, bahwa ilmuwan-ilmuwan terkenal dari barat, seperti Isaac Newton, Albert Einstein, ataupun Descartes ternyata adalah para spiritualis/mistikus tulen. Bagaimana detail dari semuanya, bisa dibaca pada trilogi Brown. Namun, pada intinya, menurut penafsiran Brown, kebudayaan barat bisa mencapai kemajuan yang spektakuler sekarang ini, bukan sekedar karena pengetahuan rasional. Namun juga karena mereka berpegang teguh pada tradisi spiritual/mistik yang bersifat holistik.
Kisah diatas tentu bukan sesuatu yang asing di asia. Tiga bangsa asia timur, yaitu Jepang, China, dan Korea, telah lama menggabungkan tradisi spiritualitas mereka yang kaya, dengan kemajuan sains modern.
Semua gedung bertingkat di Hong Kong, walaupun dibangun dengan sains modern, ternyata didesain berdasarkan prinsip Feng Shui. Jepang selalu menggabungkan manajemen modern mereka, dengan prinsip Kaizen, yang mereka warisi dari jaman Samurai. Berkat ‘perkawinan antara tradisi rasional dan intuitif tersebut, mereka bisa mencerap kemajuan. Kaum Muslimin di jaman para Khalifah juga demikian. Dokter paling hebat di masa itu, yaitu Ibn Sina, ternyata pada paruh akhir hidupnya menjadi seorang Sufi. Demikian juga Al Farabi dan Al Ghazali. Di era Khalifah, Baghdad dan Kordoba menjadi tempat bercampur baurnya berbagai falsafah yang bersifat rasional ataupun intutif/spiritual.
Bagaimana dengan kita di Indonesia? Apakah kita juga memiliki tradisi serupa, seperti kebudayaan lain? Ternyata iya. Sila pertama pada Pancasila, yaitu ‘KeTuhanan yang Maha Esa’ merupakan sesuatu pernyataan yang menunjukkan tradisi spiritualitas bangsa Indonesia. Terlepas apa penafsiran setiap agama terhadap sila pertama, Pancasila sudah memberitahukan kepada kita, bahwa dasar negara kita memiliki pondasi spiritualitas yang sangat kuat. Setiap daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, memiliki tradisi spiritual yang luar biasa. Sebagai contoh: Aceh merupakan daerah yang terkenal dengan Hamzah Fansuri, seorang sufi terkenal.
Jawa merupakan tempat asal usul dari Wali Songo. Sementara Bali merupakan salah satu pusat spiritualitas Hindu, dan Flores merupakan tempat yang menghasilkan banyak biarawan Katholik.
Singkat kata, jika kita melihat, bahwa peradaban barat dan asia timur menjadi maju karena menggabungkan sains modern dengan kearifan lokal, bukankah hal yang sama juga dapat kita lakukan? Bukankah dengan menggabungkan apa yang rasional dan intutif/holistik, akan membawa kita kepada ‘menguasai seluruh keadaan’ versi Imam Ghazali? Adapun, selain kita mengadopsi sains barat, ada baiknya kita mulai berefleksi kedalam, dan melihat tradisi kearifan lokal kita sendiri. Mari kita mulai bersama-sama menemukan ’simbol yang hilang’ pada budaya masing-masing!
Dan Brown - Personal Name
813.291
978-979-1227-86-5
Novel Inggris
Buku
Indonesia
PT BENTANG PUSTAKA
2010
Yogyakarta
705 hal.
LOADING LIST...
LOADING LIST...