Detail Cantuman Kembali

XML

Langit-Langit CINTA


Cepat-cepat Malika memegang tangan Abdul Mughits seraya berkata, “Ayahku senang padamu. Dia tidak ingin melukai perasaanmu.”

Bermacam pikiran berputar di kepala Abdul Mughits. Kemarin Abdul Mughits telah menegaskan kepada kawannya Dokter Radhi bahwa dia tidak akan menikah selain Rihab. Tapi hari ini dia berbuat seolah Malika adalah satu-satunya tunangannya. Berbagai kekuatan tersembunyi mengombang-ambingkan dirinya ke sana-kemari seakan dia tidak punya pendirian. Sekarang Malika memenuhi hidup dan dirinya. Berada di samping Malika, dia mendapati kenyamanan dan ketenangan. Maka dia pun tidak keberatan menggengam tangan Malika. Jari-jari mereka bertautan. Tapi bukankah ini haram? Sesaat setan mempermaikan Abdul Mughits. Di manakah komitmen dan agamanya? Abdul Mughits menarik tangannya dengan perlahan demi menundukkan setan itu. Tapi Malika mencengkeram tangannya kuat-kuat.

“Kenapa kamu lepaskan tanganmu? Bukankah aku tunanganmu?” Kata Malika marah.

Abdul Mughits menyerah lagi dengan menghibur diri bahwa dia harus melakukannya sebagai sikap sopan-santun. Dan di sebuah toko kain yang besar, Haji Mutawalli meminta penjual mengukurkan tiga meter kain wool Inggris yang lux. Haji Mutawalli menerimanya kemudian berpaling pada Abdul Mughits seraya berkata,

“Terimalah hadiah sederhana ini dari tunanganmu. Aku tidak mungkin menolak permintaannya.”

Malika menundukkan kepala dengan tersipu. Kedua pipinya memerah dan tersenyum.

“Ini terlalu banyak.” Kata Abdul Mughits.

“Kamu adalah anak laki-laki yang Allah tidak memberikannya padaku.”

Mata Haji Mutawalli berkaca-kaca.
NAJIB KAILANY - Personal Name
813.33
979-3604-07-7
novel indonesia
Buku
Indonesia
Pesantren Karya Basmala indonesia
2007
Semarang
267 hal.
LOADING LIST...
LOADING LIST...